Secangkir Kopi

Posted on October 18, 2013 Under Thoughts
“Menyeduh secangkir kopi, selalu membuatku mengerti.
Dalam hidup, yang pahitpun, selalu sanggup memberi arti.”

 

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki proses hidup yang berbeda, dan proses hidup itulah yang akan membentuk orang tersebut. Saya percaya bahwa setiap orang berhak memiliki pengalamannya atas apa yang terjadi dalam hidupnya tanpa intervensi pihak manapun yang membuat proses itu menjadi rusak. Allah memberikan masalah kepada setiap orang agar setiap orang dapat belajar. Pun orang lain yang melihat masalah tersebut ikut belajar.

Sering saya ingin ikut campur masuk ke dalam masalah orang lain. Memberikan alternatif keputusan yang sebaiknya dia pilih, terkadang memaksakan kehendak diri agar dia mengambil keputusan seperti yang kita sarankan, bahkan inginkan.

Saya telah belajar, bahwa sikap seperti ini sama sekali tidak bijaksana. Biarkan orang tersebut memperoleh proses belajarnya dari pengalaman hidup itu dengan lengkap. Sejauh mana kita bisa ikut campur adalah ketika orang tersebut mempersilahkan kita masuk dan mengijinkan kita mengintervensi ataupun meminta alternatif dari sudut pandang kita.

Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita. Ijinkanlah dan berikanlah ruang kepada orang tersebut untuk memilih keputusannya sendiri. Bukan kita yang memutuskan perkaranya.

Jika orang tersebut tidak mengijinkan kita masuk, hormatilah keputusan yang diambilnya.

Setiap orang berhak memiliki dan mengalami proses hidup yang lengkap. Intervensi kita bisa saja merusak proses tersebut. Memotong proses menjadi tidak lengkap dapat membuat orang tersebut tidak memperoleh pengalaman emosi yang baik. Akibatnya adalah, ketika seseorang tidak belajar apapun dalam suatu masalah, Allah cenderung akan mengulang masalah itu kepada orang yang sama.

Biarkanlah orang tersebut lulus dalam ujian hidupnya. Jika dia tidak mengijinkan kita masuk, maka jangan memaksa untuk masuk. Ketika dia tiba-tiba membutuhkan kita dan mengijinkan kita, masuklah ke dalam dengan cara yang baik.

Terkadang kita menjadi “perpajangan tangan” Allah untuk menyampaikan sesuatu kedalam hidupnya dalam waktu dan mometum yang tepat. Jika itu belum, maka bersabarlah. Setiap orang memiliki ujian hidupnya masing-masing. Iman pun akan diuji, keyakinan, impian, idealisme, semuanya akan diuji dengan masalah untuk mengetahui sejauh mana keyakinan dan kekuatannya terhadap apa yang dia yakini itu.

Biarkanlah setiap orang memiliki pengalaman emosi yang lengkap. Biarkan seseorang memilih keputusannya sendiri. Siapkan diri kita kapanpun dia membutuhkan. Sejauh dia belum memanggil kita, maka perhatikanlah dan belajarlah dari masalah yang sedang dia hadapi.

Saya yakin, setiap orang dengan masalahnya dihadirkan oleh Allah ke kehidupan kita bukan tanpa tujuan, tetapi untuk kita belajar mengenai hidup. Sejauh mana kita semua paham akan hal ini, akan membuat kita menghadapi hidup dengan lebih bijaksana, baik dalam bersikap maupun mengambil keputusan.